+62 896 6423 0232 | info@idmetafora.com
Software ERP Indonesia IDMETAFORA


Peran Strategis Return On Investment (ROI) dalam Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

20 November, 2023   |   syefafalih

Peran Strategis Return On Investment (ROI) dalam Pengambilan Keputusan Bisnis yang Efektif

Salah satu hal penting yang perlu dimiliki setiap pemilik bisnis adalah memahami pengertian ROI atau Return On Investment atau yang disebut tingkat pengembalian investasi dengan keseluruhan pada suatu bisnis yang mereka lakukan. Di artikel ini, kita akan membahas mengenai pengertian ROI (return on investment) dan cara menghitungnya serta rumus apa yang perlu digunakan. Adapun alasan utama dari pentingnya memahami return on investment ini, yaitu dikarenakan ROI adalah tolok ukur dari profitabilitas bisnis yang paling tepat.

Dengan memahami tingkat pengembalian investasi, semua aktivitas operasional dapat dievaluasi tingkat pengembalian investasinya. Bahkan beberapa pakar keuangan yang terdapat di Indonesia mengungkap bahwa return on investment sebagai uang atau aset yang diperoleh atau hilang dalam proses investasi dari sebuah bisnis. Dalam hal ini, investasi mengacu terhadap pembelian aset, modal, serta juga anggaran yang diperlukan sebagai gaya investasi. Untuk pembahasan lebih lengkapnya, mari kita simak di bawah ini!

 

Pengertian ROI (Return On Investment)

Return on investment atau ROI adalah rasio keuntungan dan juga kerugian dari sebuah investasi, yang kemudian dibandingkan dengan jumlah uang yang diinvestasikan. Sederhananya, pengertian return on investment ini merupakan persentase keuntungan yang bisa didapatkan dari total jumlah aset yang diinvestasikan. Return on investment atau ROI adalah cara yang cukup efektif untuk melihat efektivitas dari sebuah bisnis.

ROI (return on investment) digunakan untuk perhitungan berapa dana yang dibutuhkan untuk investasi. Contohnya apabila investor ingin menanam modal, maka persentase ROI (return on investment) bisa digunakan untuk meyakinkan para investor agar mau berinvestasi. Selain itu, ROI (return on investment) juga menghitung potensi keuangan aktual perusahaan untuk bisa membagi pendapatan ataupun laba dengan jumlah investasi yang didapatkan.

Perhitungan ROI atau return on investment ini sangat dibutuhkan oleh para investor. Secara tidak langsung, ROI (return on investment) akan menggambarkan seberapa banyak keuntungan yang didapatkan para investor, jika menginvestasikan modalnya ke dalam sebuah bisnis. Contohnya, apabila kita ingin berinvestasi ke suatu bisnis dengan persentase ROI minimal 5 persen, maka setidaknya kita dapat memperoleh persentase keuntungan yang sama, atau lebih tinggi dari yang kita investasikan.

ROI (return on invesment) disini juga digunakan untuk pengukuran keberhasilan dari suatu proyek. Contohnya, perusahaan kita menginvestasikan dana untuk suatu program kampanye. Perusahaan akan menganalisa hasil dari penjualan yang didapatkan dengan uang yang dikeluarkan untuk kampanye sebagai penentuan return on investment. Jika uang yang didapatkan lebih banyak dari jumlah uang yang dikeluarkan, maka bisa disimpulkan bahwa program kampanye tersebut mendatangkan profitabilitas. Nanum apabila sebaliknya, maka bisa disimpulkan bahwa program kampanye tersebut tidak efektif dan perlu dilakukannya evaluasi.

 

Pengertian ROI (Return On Investment) Menurut Ahli

Berikut ini merupakan beberapa pengertian ROI atau return on investment menurut beberapa ahli dalam bidang bisnis, yaitu sebagai berikut:

1. Menurut Munawir (2007)
Return on investment adalah salah satu bentuk rasio profitabilitas yang bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan sebagai penghasilan profitabilitas.

2. Menurut Sutrisno (2001)
Return on investment adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan profitabilitas yang akan digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan.

3. Menurut Suad Husnan & Enny Pudjiastuti (2004)
ROI atau return on investment adalah rasio yang menunjukkan seberapa banyak profit bersih yang bisa didapatkan dari seluruh kekayaan yang dimiliki perusahaan.

4. Menurut Bambang Riyanto (2005)
ROI adalah tingkat pengembalian investasi yang menunjukkan tingkat kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk dapat memperoleh profitabilitas netto.

5. Menurut Kasmir (2015)
Kasmir, menganggap ROI sebagai rasio pengembalian ataupun hasil yang didapatkan atas aktiva yang digunakan oleh suatu perusahaan. Selain itu, ROI merupakan skala pengukur efektivitas manajemen sebuah transaksi investasi.

 

Faktor yang Mempengaruhi ROI

Ada dua faktor yang berpengaruh terhadap perhitungan ROI. Dalam perubahan nilai salah satu ataupun kedua faktor ini akan turut memberikan perubahan terhadap ROI yang didapatkan. Dibawah ini merupakan penjelasan kedua faktornya:

1. Tingkat Sirkulasi Aktiva Operasi atau Operating Assets
Aktiva yang dihitung disini, yaitu yang berguna untuk aktivitas operasional atau yang disebut dengan operating assets. Contohnya bangunan, peralatan, uang, hingga aset tidak berwujud seperti hak paten. Sedangkan aset yang berbentuk investasi dan sejenisnya yang tidak langsung berdampak dalam operasional bukan merupakan operating assets. Menghitung tingkat perputaran operating assets ini mempunyai tujuan untuk melihat sejauh mana perusahaan dapat memanfaatkan berbagai macam aset yang dipunyainya. Selain itu, penghitungan ini juga dapat membantu mempertimbangkan perkembangan usaha menuju arah yang lebih baik.

2. Profit Margin
Profit margin dapat diartikan sebagai rasio antara laba bersih dengan penjualan bersih. Berarti kedua variabel yang dihitung tidak termasuk dalam beban pajak atau sejenisnya. Dengan profit margin ini akan dapat diketahui besarnya efisiensi suatu perusahaan. Hasil dari perhitungan profit margin ini menunjukkan berapa profitabilitas yang didapatkan dalam 1 rupiah penjualan. Contohnyanya nilai profit margin yaitu sebanyak 25 persen, maka artinya 1 rupiah penjual mengandung 0.25 rupiah profitabilitas. Oleh karena itu, semakin besar hasil perhitungan profit margin, maka akan semakin besar juga profitabilitas yang akan didapatkan.

 

Manfaat Return On Investment

Setelah mengetahui pengertian dari ROI dan beberapa faktor yang mempengaruhi ROI, saatnya kita untuk mengetahui terkait apa sih sebenarnya manfaat dari return on investment ini:

1. Efisiensi Penggunaan Dana
Manfaat yang utama dari ROI (return on investment) ini adalah saat suatu perusahaan sudah menjalankan praktik akuntansi yang baik, maka manajemen dengan menggunakan teknik analisa ROI ini dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang bekerja, efisiensi produksi, serta juga efisiensi dalam bagian penjualan.

2. Mengetahui Kelemahan Perusahaan
Manfaat selanjutnya dari ROI (return on investment) ini, yaitu dapat membandingkan efisiensi penggunaan modal dalam perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis. Sehingga dapat mengetahui apakah perusahaan berada di bawah, sama, atau bahkan di atas rata-rata. Dengan begitu, akan dapat mengetahui dimmana kelemahan dan apa yang sudah solid dalam perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.

3. Mengukur Profitabilitas dari Perusahaan atau Produk
Apabila suatu perusahaan menggunakan product cost system yang baik, maka dari perhitungan modal dan juga biaya dapat dialokasikan dalam berbagai macam produk yang dihasilkan perusahaan yang bersangkutan. Maka hal itu akan memudahkan untuk menghitung keuntungan dari masing-masing produk yang dihasilkan.

4. Sebagai Alat Kontrol
Manfaat yang terakhir dari ROI (return on investment) ini adalah sebagai alat kontrol untuk melihat bagaimana prospek saat ini. Sehingga bisa mendapatkan bayangan terkait langkah apa yang selanjutnya bisa diambil perusahaan.

 

Kegunaan dan Kelemahan ROI

Penggunaan ROI ini dapat memberikan manfaat dan kegunaan. Akan tetapi, ada juga kelemahan yang juga perlu dipertimbangkan. Dalam melakukan perhitungan, kita harus memahami keduanya agar tidak salah paham mengenai pengertian ROI (return on investment) itu sendiri.

Kegunaan
Beberapa kegunaan ROI (return on investment) cukup bermanfaat untuk mempertimbangkan rencana investasi, yaitu sebagai berikut:

1. Perusahaan dapat mengukur efisiensi berbagai macam aspek, sebab sifat ROI (return on investment) yang menyeluruh. Kegunaan ini bisa dimaksimalkan apabila akuntansinya sudah dijalankan dengan baik.
2. Bisa digunakan sebagai perbandingan dengan perusahaan lain apabila rasio industri telah diketahui.
3. Sebagai dasar untuk pengambilan keputusan investasi, baik itu berupa pembelian atau pendanaan.

Kelemahan
Selain kegunaan yang telah dijelaskan tadi, ROI (return on investment) juga memiliki kelemahan. Dalam hal ini harus diperhatikan agar penggunaan ROI (return on investment) ini tidak membuat perusahaan mengabaikan pertimbangan lain. Dibawah ini merupakan beberapa kelemahan dari ROI:

1. Susah untuk membandingkan rate of return antar perusahaan yang mungkin berbeda dengan praktik akuntansinya. Perbedaan itu dapat membuat kesalahan perbandingan.
2. Fluktuasi nilai uang bisa mempengaruhi terhadap perhitungan profit margin. Hal tersebut disebabkan adanya perbedaan atas pembelian yang dilakukan saat inflasi dan disaat tidak inflasi.
3. Belum dapat dipastikan efektivitasnya, disebabkan tidak turut menghitung biaya modal. Padahal, biaya modal ini cukup penting untuk melihat tingkat penggunaan modal.

 

Cara Meningkatkan ROI

Berikut ini merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan nilai ROI (return on investment) dalam perusahaan:

1. Gunakan A/B Testing
A/B Testing adalah metode yang digunakan untuk membandingkan apakah strategi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan konsumen atau belum. Dalam peningkatan ROI (return on investment) dalam perusahaan atau bisnis, kita bisa melakukan pengujian A/B Testing ini kepada konsumen. Sehingga kita dapat menguji jenis kampanye mana yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan kampanye mana yang perlu diperbaiki. Hal pertama yang bisa kita lakukan, yaitu dengan membuat beberapa strategi kampanye yang akan dilakukan. Dibawah ini merupakan contoh yang bisa digunakan:

– Landing Page
– Newsletter
– Content Marketing
– Website bisnis

Cara yang efektif untuk menaikkan ROI (return on investment) adalah dengan menaikkan brand awareness terhadap calon konsumen baru mengenai bisnis dan produk kita yang akan dijual.

2. Menetapan Tujuan ROI dan Buat Rencana yang Matang
Cara kedua untuk peningkatan ROI (return on investment) adalah dengan menetapkan tujuan dan rencana yang matang mengenai prospek bisnis yang akan dijalani kedepannya. Buatlah tujuan bisnis yang cerdas, solutif, relevan, serta inovatif agar dapat mengembangkan bisnis dengan lebih jauh dan memperluas target audiens yang ditargetkan. Hasil dari perhitungan ROI (return on investment) ini juga dapat bertujuan untuk pedoman dalam pembuatan proyeksi dan strategi bisnis. Nilai perhitungan ROI (return on investment) adalah suatu hal yang cukup penting untuk aktivitas pemasaran untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan profitabilitas dengan potensi bisnis yang lebih besar. Selain itu, kita juga perlu memperhatikan detail seperti perhitungan pajak serta perkiraan inflasi yang akan terjadi pada periode sebelumnya dengan data yang telah dimiliki saat ini.

3. Tentukan Unique Selling Product (USP)
Temukan dan tentukan Unique Selling Product pada produk dan juga bisnis yang kita jalankan. Pelu diketahui bahwa USP ini akan sangat membantu untuk menarik investor atau calon konsumen baru ke dalam bisnis kita. Semakin relevan dan solutif USP yang kita miliki, maka akan semakin terbantu dalam membedakan bisnis kita dengan kompetitor. Hal ini tentunya akan membantu dalam peningkatan nilai ROI (return on investment) dalam bisnis. Contohnya, ketika kita mempunyai bisnis Cloud Kitchen yang tren bisnisnya memang sedang naik dan banyak orang yang berminat untuk berinvestasi dalam bisnis ini. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan membuat inovasi baru dan belum dipunyai oleh kompetitor lain. Contohnya, kita menambahkan opsi untuk makan ditempat atau inovasi lain agar bisnis kita memiliki nilai USP lebih dari kompetitor.

4. Eksplor Channel Pemasaran Lainnya
Strategi ideal yang bisa digunakan untuk meningkatkan ROI (return on investment) yaitu dengan menggunakan channel pemasaran lain. Contohnya seperti menggunakan website, membuat sebuah newsletter, melakukan pemasaran secara offline, hingga menggunakan sosial media untuk menjaring audiens baru. Kita bisa mencoba eksplorasi channel pemasaran tersebut, kemudian mencari tahu dan menggunakan data analisis pada platform bisnis kita untuk memperoleh impresi atau konversi paling banyak. Apabila telah menemukan platform yang tepat, maka kita dapat langsung mempelajari platform tersebut dan membuat suatu strategi konten yang tepat agar dapat meraih tujuan yang diinginkan.

 

Cara Menghitung ROI (Return On Investment)

Untuk lebih memahami apa itu ROI, penting untuk mengetahui bagaimana cara menghitungnya. Perhitungan ROI ini dapat dilakukan dengan rumus yang sederhana. Yaitu cukup dengan memahami berapa biaya investasi yang perlu dikeluarkan dan pendapatan yang akan diterima. Meskipun sederhana, dalam pemasukkan angka ke dalam rumus perlu lebih teliti. Bisa saja dalam prakteknya, ada perbedaan istilah. Padahal inti yang dimaksud sama.

Rumus ROI:

ROI = (Pendapatan Investasi - Biaya Investasi) / Biaya Investasi X 100%

Selain itu, tentukan juga waktu pengembalian biayanya. Hal itu akan berguna untuk memberikan batasan pada perhitungan yang dilakukan. Perkiraan pendapatan juga dapat diketahui dengan lebih jelas.

 

Contoh Kasus ROI (Return On Investment)

Untuk lebih memperjelas terkait rumus yang telah disebutkan tadi, maka perlu adanya contoh pengaplikasiannya di sebuah kasus. Dibawah ini merupakan beberapa contoh kasus yang mempunyai kesamaan dengan kasus nyata yang tengah dihadapi:

Kasus Pertama

Perusahaan Arif ingin membeli suatu alat yang dapat melakukan pekerjaan yang awalnya dilakukan 6 pekerja manusia. Harga alat tersebut yaitu sebesar 50 juta rupiah, sedangkan gaji dari masing-masing pekerja yang ingin dihilangkan tersebut yaitu sebesar 3,2 juta rupiah. Untuk menghitung ROI selama satu tahun, maka perhitungannya sebagai berikut:

Pendapatan investasi adalah besarnya gaji yang bisa dihilangkan. Berarti perhitungannya 6 x 3.200.000 x 6 = Rp115.200.000, -. Sementara biaya investasi ialah harga beli alat, yaitu sebesar Rp50.000.000, -.

ROI = (115.200.000 - 50.000.000) / 50.000.000 × 100%
= 65.200.000 / 50.000.000 × 100%
= 1,304%.
 

Kasus Kedua

Perusahaan Burhan melakukan investasi dengan nilai 100 juta rupiah kepada usaha penjualan alat musik. Keuntungan dari penjualan tersebut adalah sebesar 150 juta. Maka, perhitungan ROI adalah sebagai berikut:

ROI = (150.000.000 - 100.000.000) / 100.000.000 x 100%
= 50.000.000 / 100.000.000 × 100%
= 50% atau 0,5.
 

Kasus Ketiga

Perusahaan Citra mengeluarkan dana sebesar 5 juta rupiah untuk mengiklankan produknya. Dari iklan itu, terdapat banyak respon positif dan 100 diantaranya tertarik untuk membelinya. Perusahaan ini pun memperoleh hasil penjualan sebesar 6 juta rupiah. Disini bisa kita ketahui bahwa pendapatan investasi sebesar 6 juta rupiah dan biaya investasinya sebesar 5 juta rupiah. Maka, apabila dimasukkan ke dalam rumus, bisa dilihat sebagai berikut:

ROI = (6.000.000 - 5.000.000) / 5.000.000 x 100%
= 1.000.000 / 5.000.000 × 100%
= 2% atau 0,2.
 

Kasus Keempat

Suatu perusahaan teknologi, PT Inovasi Digital memutuskan untuk mengimplementasikan sistem manajemen keamanan baru dengan biaya pengembangan sebanyak 80 juta rupiah. Setelah penerapan sistem tersebut, perusahaan berhasil meminimalisir insiden keamanan dan kerugian yang berkaitan sebanyak 120 juta rupiah dalam setahun.

Pendapatan investasi bisa dihitung sebagai selisih antara kerugian yang berhasil dicegah dengan biaya pengembangan sistem:
Pendapatan Investasi = 120.000.000 (kerugian yang berhasil dicegah)

Biaya investasi merupakan biaya pengembangan sistem keamanan:
Biaya Investasi = 80.000.000 (biaya pengembangan sistem)

Dengan menggunakan rumus ROI, kita bisa menghitung tingkat pengembalian investasi:
ROI = (Pendapatan Investasi − Biaya Investasi) / Biaya Investasi × 100%

ROI = (120.000.000 − 80.000.000) / 80.000.000 × 100% = 50%

Jadi, ROI untuk implementasi sistem manajemen keamanan baru adalah sebesar 50%. Nilai ini menunjukkan bahwa investasi tersebut memberikan hasil positif dengan tingkat pengembalian sebanyak 50%, yang menandakan keberhasilan perusahaan dalam pengelolaan risiko keamanan.
 

Kasus Kelima

Deni memutuskan untuk menginvestasikan 20 juta rupiah untuk pembelian saham dari sebuah perusahaan teknologi. Setelah setahun, nilai saham tersebut meningkat, dan Deni berhasil menjualnya dengan keuntungan sebesar 8 juta rupiah. Dalam hal ini, pendapatan investasi merupakan keuntungan yang didapatkannya, yaitu 8 juta rupiah, serta biaya investasi adalah jumlah uang yang diinvestasikan awalnya, yaitu 20 juta rupiah.

ROI = (20.000.000 − 8.000.000) / 20.000.000 × 100%

= −12.000.000 / 20.000.000 × 100%

= −60%

Dalam kasus ini, hasil dari ROI (return on investment) negatif, menunjukkan bahwa investasi tersebut tidak memberikan keuntungan yang diharapkan dan bahkan mengalami kerugian.
 

Kasus Keenam

Sebuah perusahaan Putri Fashion menginvestasikan 30 juta rupiah untuk pengembangan desain dan produksi koleksi baru. Setelah peluncuran, penjualan koleksi baru tersebut memperoleh pendapatan sebanyak 80 juta rupiah dalam setahun. Biaya investasi dihitung berdasarkan total investasi awal, yaitu 30 juta rupiah.

ROI = (80.000.000 − 30.000.000) / 30.000.000 × 100%

= 50.000.000 / 30.000.000 × 100%

= 166.67%

Dalam kasus ini, ROI menunjukkan nilai yang positif, menandakan bahwa investasi dalam pengembangan koleksi baru memberikan profitabilitas yang baik.

 

Pentingnya Sistem Aplikasi Terintegrasi untuk Keuangan Perusahaan

Sistem aplikasi terintegrasi memegang peranan penting dalam meningkatkan efisiensi dan kinerja keuangan perusahaan. Melalui konsolidasi data dari berbagai departemen, integrasi menyediakan sumber data terpusat, mengurangi risiko kesalahan, dan memastikan akurasi laporan keuangan. Otomatisasi proses bisnis keuangan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, namun juga memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat. Manajemen kas yang lebih baik, kepatuhan terhadap regulasi, kolaborasi antar departemen, serta kemampuan untuk mengadaptasi perubahan bisnis secara cepat merupakan beberapa manfaat dari sistem aplikasi terintegrasi. Dengan memanfaatkan data yang terintegrasi, perusahaan bisa melakukan analisis lebih mendalam dan detail, menghasilkan laporan informatif, dan mencapai pengelolaan keuangan yang lebih optimal untuk mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan perusahaan. Pilihan tepat untuk sistem aplikasi terintegrasi ini adalah IDMETAFORA. Mengapa? Karena terpercaya dan mempunyai komitmen untuk menjadikannya perangkat lunak (software) terbaik di Indonesia, memberikan garansi pemeliharaan dan berkomitmen membantu penyesuaian untuk kebutuhan setiap kliennya sampai tuntas. Kegunaan users (pengguna) yang tidak dibatasi tanpa tambahan biaya per penggunanya serta dapat dengan mudah menambahkan users atau pengguna baru. IDMETAFORA juga bisa memasang modul khusus untuk aplikasi perusahaan dengan fitur yang hanya diperlukan sesuai struktur, alur bisnis, ukuran dam rencana dalam perusahaan Anda.

 

Kesimpulan

ROI (return on investment) adalah metrik yang digunakan untuk menilai efektivitas sebuah investasi dengan membandingkan keuntungan yang didapatkan dengan biaya investasi awal. Rumus umumnya adalah keuntungan dikurangi biaya investasi, dibagi dengan biaya investasi, kemudian dikalikan 100%. Nilai ROI yang lebih tinggi menunjukkan keuntungan yang lebih besar terhadap biaya investasi. Meskipun ROI memberikan gambaran tentang kinerja investasi, perlu diingat bahwa faktor-faktor seperti risiko dan waktu pengembalian juga penting untuk dipertimbangkan sebagai analisis yang lebih detailnya.

Liputan Software ERP IDMETAFORA Indonesia!

Jika anda merasa artikel ini bermanfaat, bagikan ke pengikut anda melalui tombol dibawah ini:



Software ERP Indonesia

Artikel rekomendasi untuk Anda