+62 896 6423 0232 | info@idmetafora.com
Software ERP Indonesia IDMETAFORA


Mari Mengenal Teknologi Yang Bisa Mengkloning Orang Lain Secara Real Time, DEEPFAKE!

7 September, 2022   |   Hilal

Mari Mengenal Teknologi Yang Bisa Mengkloning Orang Lain Secara Real Time, DEEPFAKE!

Dalam beberapa tahun terakhir, social media diramaikan dengan berbagai gambar ataupun video yang dibuat menggunakan teknologi bernama Deepfake. Saat ini memang sudah semakin banyak aplikasi yang memungkinkan seseorang untuk memanipulasi sebuah gambar maupun video. 

Contoh aplikasi yang telah menggunakan teknologi Deepfake dan sedang ramai diperbincangkan adalah aplikasi MyHeritage. Dengan aplikasi tersebut memungkinkan penggunanya memiliki kemampuan yang bisa menganimasikan sebuah foto lawas. Selain itu ada juga aplikasi bernama FaceApp yang mampu mengubah foto seseorang menjadi terlihat puluhan tahun lebih tua dalam hitungan menit saja.

Kini teknologi memang sudah semakin canggih. Kamu dapat menemukan berbagai gambar ataupun video palsu yang tampak sangat nyata. Dari berbagai konten digital tersebut, kamu dapat memahami bahwa teknologi deep learning benar-benar dapat membantu dalam proses pembuatan suatu film.

Meskipun demikian, teknologi ini juga membawa keresahan bagi sebagian besar orang. Jika dipergunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Deepfake dapat disalahgunakan untuk membuat video rekayasa yang terlihat realistis dengan tujuan negatif. Penggunaan yang salah dapat menyebabkan reputasi seseorang dalam bahaya, dan sudah banyak kasus yang terjadi.
 

Apa Itu Deepfake


Deepfake merupakan metode untuk manipulasi foto ataupun video dengan menggunakan teknologi berkemampuan Artificial Intelligence (AI) untuk menyatukan kemiripan wajah seseorang ke wajah orang lain. Dengan kata lain teknologi Deepfake ini dapat memanipulasi gambar atau video seseorang agar tampak seolah - olah mereka sedang melakukan atau mengatakan sesuatu dari orang yang dituju namun sebenarnya tidak pernah terjadi.

Kata Deepfake menggabungkan dua istilah yaitu “deep learning” dan juga “fake”. Jadi secara sederhana, Deepfake merupakan video atau gambar palsu yang dibuat menggunakan teknologi deep learning dengan bantuan Artificial Intelligence.

Teknologi ini dapat dengan sangat mulus menggabungkan wajah siapapun ke dalam video ataupun foto. Teknologi seperti inilah yang dipergunakan dalam Film Fast & Furious 7 dimana aktor Paul Walker dapat “dihidupkan” kembali yang sebenarnya aktor tersebut telah meninggal.

Contoh aplikasi yang menggunakan teknologi Deepfake:
1. Faceapp
2. Faceswap
3. MyHeritage
4. DeepFaceLab
5. Zao
6. Reface
7. AvengeThem, dan yang lainnya.
 

Cara Kerja Deepfake


Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membuat simulasi Deepfake bekerja. Salah satunya dengan menggunakan Generative Adversarial Network atau disingkat GAN yaitu salah satu framework machine learning yang dapat melatih dirinya sendiri untuk mengenali suatu pola algoritma, hingga dapat membuat gambar hingga video  palsu.

Cara kerja lain dari Deepfake adalah dengan menggunakan algoritma AI yang disebut dengan encoder. Algoritma ini, biasa digunakan dalam teknologi face-replacement dan juga face-swapping. Awalnya, dekoder akan mengambil lalu menukar wajah yang memungkinkan untuk “digantikan” dengan wajah yang lain, atau bahkan ke tubuh yang berbeda dari si pengguna.

Deepfake juga dapat menggunakan autoencoder, yang bertugas untuk melakukan kompresi dan dekompresi encoder klasik. Nantinya, hal ini akan membantu para pelaku cybercrime untuk membuat gambar yang benar-benar baru. Untuk membuat teknologi Deepfake bekerja dibutuhkan dua autoencoder sekaligus, sehingga memungkinkan gambar serta gerakan akan dapat ditransfer dari satu gambar ke gambar lainnya.
 

Cara Membuat Deepfake 


Terdapat berbagai metode yang bisa dipergunakan untuk membuat suatu video Deepfake. Meskipun demikian, metode yang paling umum digunakan bergantung pada penggunaan Deep Neural Networks atau disingkat dengan DNN yang melibatkan autoencoders dengan teknik face-swapping. Deep Neural Networks ini merupakan sekumpulan algoritma yang dirancang untuk mengenali pola serta memproses data dengan cara yang kompleks.

Untuk membuat Deepfake, maka kamu harus menyediakan video target yang akan digunakan sebagai dasar video. Kemudian, kamu juga memerlukan kumpulan klip dari video seseorang yang ingin kamu masukkan ke dalam video target.

Perlu diketahui bahwa beberapa video tersebut tidak harus saling berkaitan. Dengan teknologi autoencoder, program AI deep learning akan bertugas untuk mempelajari video tersebut serta memahami seperti apa tampilan orang tersebut dari berbagai sudut dan juga kondisi lingkungan. 

Adapun teknologi machine learning yang akan ditambahkan ke dalam video. Teknologi tersebut bernama Generative Adversarial Networks atau GAN yang bisa mendeteksi dan memperbaiki kekurangan dalam video Deepfake. GAN juga digunakan sebagai metode populer untuk pembuatan Deepfake yang mengandalkan studi data dalam jumlah yang besar untuk mempelajari cara mengembangkan gambar dengan meniru hal yang nyata.  

Setelah beberapa kali dilakukan pendeteksian dan juga perbaikan oleh GAN, maka video Deepfake akan selesai dibuat. Banyak orang berasumsi bahwa GAN ini  akan menjadi mesin utama untuk pengembangan Deepfakes di masa yang akan datang.

Ketika  pertama kali muncul teknologi ini dibutuhkan para ahli dan waktu yang cukup panjang untuk menghasilkan efek tersebut. Sekarang teknologi Deepfake sudah semakin maju sehingga dapat mensintesis gambar ataupun video dengan waktu yang lebih cepat. 
 

Jenis Deepfake


1. Deepfake teks

Teknologi Deepfake yang memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) saat ini sudah mampu meniru berbagai aktivitas manusia, termasuk dalam hal menulis. Kamu dapat menemukan tulisan di sebuah blog maupun sosial media yang sebenarnya tidak ditulis oleh manusia, melainkan oleh komputer yang meniru tulisan dari manusia.

Deepfake teks banyak digunakan untuk menciptakan sebuah narasi palsu di internet melalui tulisan di blog hingga sosial media. Bahkan, Deepfake juga dapat membuat akun sosial media palsu (bot account) hingga membuat sebuah postingan palsu.

2. Deepfake video

Kejahatan cyber dalam bentuk Deepfake video adalah yang paling sering dijumpai. Umumnya, serangan Deepfake video diluncurkan untuk memanipulasi hingga menipu orang lain melalui video palsu dari orang - orang yang memiliki pengaruh besar seperti tokoh bersejarah, selebriti, hingga politisi. Deepfake jenis ini lebih ampuh untuk melakukan penipuan dan sangat berbahaya jika berhasil.

3. Deepfake audio

Penipuan melalui Deepfake tidak hanya terbatas pada teks, gambar, ataupun sebuah video. Kecanggihan Deepfake saat ini bahkan dapat mengkloning suara seseorang dengan sangat mudah.

Hal yang diperlukan untuk dapat melakukannya hanyalah kumpulan data rekaman audio seseorang. Kemudian, algoritma Deepfake akan mempelajari kumpulan data tersebut hingga dapat diciptakan kembali menjadi suara yang utuh serta dapat mengucapkan apa saja.
 

Risiko Dari Penggunaan Teknologi Deepfake


Meskipun membuat sebuah video dengan menggunakan teknologi Deepfake terlihat menarik, namun teknologi ini memiliki sisi negatif yang menjadi perhatian banyak orang. Setelah dirilisnya teknologi ini, Reddit dibanjiri dengan berbagai video pornografi palsu yang menampilkan wajah dari seorang politisi hingga selebritis terkenal. 

Seiring dengan perkembangannya, Deepfake dengan teknologi AI nya memungkinkan untuk tidak hanya memalsukan wajah saja namun juga suara semua orang. Kondisi tersebut membuat risiko akan pembuatan sebuah video untuk penyebaran info palsu (hoax) yang menjadi semakin mengkhawatirkan.

Jika digunakan oleh orang yang memiliki kemampuan dalam bidang teknologi namun dengan tujuan yang jahat, teknologi ini bisa menjadi “alat” untuk menjatuhkan reputasi seseorang yang ditargetkan. Sudah ada banyak kasus dimana teknologi ini dipergunakan untuk menyebarkan hoax yang merusak reputasi seseorang. Contohnya saja seperti pada tahun 2018, terdapat sebuah video dari Presiden USA Donald Trump yang menyerukan kepada Belgia untuk menarik diri dari perjanjian Paris Agreement. Padahal, Donald Trump mengatakan sendiri jika ia tidak pernah memberikan pidato itu, dan setelah diteliti ternyata video tersebut dibuat dengan menggunakan teknologi Deepfake.

Banyak ahli yang percaya bahwa, di masa yang akan datang Deepfake akan menjadi jauh lebih canggih dari yang sekarang sehingga mampu untuk menimbulkan ancaman yang lebih serius kepada publik. Di sisi lain, sekarang ini sebagian besar orang melakukan aktivitasnya secara online melalui berbagai platform digital. Jika video-video palsu tersebut terus tersebar luas, maka efek jangka panjang yang dapat ditimbulkan adalah munculnya rasa ketidakpercayaan pada bukti audio ataupun video secara umum.
 

Cara untuk Mendeteksi Deepfake?


1. Cek warna kulit, rambut, atau wajah seseorang dalam video tersebut. Biasanya video Deepfake akan menampilkan seseorang dengan wajah yang tampak lebih buram daripada gambar lingkungan di sekitarnya. Selain itu, fokus video juga terkadang terlihat tidak natural. 

2. Cek pencahayaan video, apakah terlihat tidak natural? Perlu kamu ketahui bahwa seringkali algoritma Deepfake akan tetap menggunakan pencahayaan dari video klip seseorang yang ingin ditambahkan. Jadi, pencahayaan akan terlihat tidak sesuai pencahayaan di video target.

3. Kamu dapat mencermati kembali audio pada video tersebut karena Deepfake seringkali menampilkan gerak mulut yang terlihat tidak natural. Hal ini banyak ditemukan terutama ketika video yang dimanipulasi menggunakan audio tidak diedit dengan baik.
Selain mencermati indikator di atas, saat ini juga sudah ada beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk mendeteksi video Deepfake. Beberapa diantaranya seperti:
 

Cara Mencegah Kejahatan Deepfake


1. Mengurangi Postingan Sosial Media

Setiap postingan yang kamu bagikan di internet akan meninggalkan jejak digital yang tidak bisa dihapus. Baik dalam bentuk teks, sebuah gambar, rekaman video, hingga rekaman audio. Para pelaku kejahatan cyber akan memanfaatkan data tersebut untuk melakukan sebuah Deepfake. Untuk itu, ada baiknya untuk tidak terlalu banyak mengunggah hal yang bersifat sensitif tersebut ke sosial media.

2. Gunakan Fitur Privasi Akun

Jika kamu ingin tetap aktif di jejaring media sosial, cara lain untuk mencegah kejahatan Deepfake adalah dengan mengaktifkan fitur privasi. Selain itu, kamu juga dapat membatasi siapa saja orang-orang yang berteman ataupun yang dapat melihat isi postinganmu di media sosial.

3. Follow Orang Kamu Percaya Dan Dapat Dipercaya

Pastikan hanya menjalin interaksi dengan orang yang kamu kenal dan dapat dipercaya di sosial media. Jangan berinteraksi dengan orang asing yang tidak dikenal.

4. Bijak Dalam Menggunakan Internet

Perlu diingat jika Deepfake tidak hanya dapat mencuri foto atau video hingga membuat profil palsu secara online. Deepfake merupakan kejahatan cyber yang lebih serius hingga dapat memberikan dampak kerugian yang sangat besar pada korbannya. Untuk itu, selalu berhati-hati serta bijaklah dalam menggunakan internet. Serta tidak mudah dalam mempercayai apapun di internet.

5. Sensity

Sensity bekerja seperti antivirus yang dapat mendeteksi suatu Deepfake. Software ini dapat melindungi kamu dari ancaman kejahatan visual.

Sensity dikembangkan oleh para peneliti Machine Learning dan threat intelligence specialists dengan tujuan untuk melindungi individu maupun perusahaan dari ancaman yang ditimbulkan deepfake dan bentuk media visual berbahaya lainnya.

6. Operation Minerva

Software pendeteksi deepfake yang selanjutnya bernama Operation Minerva. Software ini menggunakan digital fingerprinting untuk mengidentifikasi dan menemukan video palsu yang dibuat tanpa persetujuan kamu .
 

Kesimpulan


Beberapa tahun terakhir ini, Deepfake memang menjadi salah satu teknologi yang sedang diminati oleh banyak orang. Social media banyak diramaikan dengan berbagai konten gambar ataupun video yang dimanipulasi agar seseorang dapat terlihat tua atau terlebih lebih muda dari aslinya. Bahkan tidak sedikit pengguna yang menggunakan berbagai aplikasi dan mencoba - coba untuk mengubah wajah dari aktor kesayangan mereka dengan wajah mereka sendiri.

Sebenarnya, video Deepfake yang dibuat menggunakan aplikasi yang tersebar luas di app store cukup mudah dikenali bahwa konten tersebut palsu. Namun ketika video Deepfake secara matang dibuat menggunakan teknologi canggih oleh orang yang benar-benar ahli, maka video tersebut akan menjadi semakin sulit dideteksi kepalsuannya.


IDMETAFORA Menawarkan Enterprise resource planning (ERP) adalah aplikasi bisnis yang terintegrasi. Aplikasi ERP membantu proses operasional bisnis yang luas dan mendalam, seperti yang ditemukan dalam proses pembelian, pengelolaan gudang, penjualan, keuangan, SDM, distribusi, manufaktur, layanan, dan rantai pasokan.
Hubungi kami di : 0896 6423 0232 atau 0813 9399 3723.
Jl. Damai No.36, Sleman, Yogyakarta.

Liputan Software ERP IDMETAFORA Indonesia!

Jika anda merasa artikel ini bermanfaat, bagikan ke pengikut anda melalui tombol dibawah ini:



Software ERP Indonesia

Artikel rekomendasi untuk Anda